Antara Aku, Pikiranku dan Sosmedku
Apa kamu sering ‘curhat’ di sosmed? Pastinya. Aku pun begitu, segala yang kurasa tidak sesuai jika dilihat dari sudut pandangku, pasti ingin sekali rasanya ku adukan di sosmed. Meski sebenarnya, seringkali tujuanku untuk menyindir seseorang.
Tapi, kini, hal itu tidak ku lakukan, ku urungkan niatku untuk melakukannya.
Kenapa? Karena, tiba-tiba sekelebat pikiran datang menghampiriku. Pikiran itu mengatakan:
Dengan menuliskannya, pastikah akan sampai kepada siapa yang kamu tuju?
Dengan menuliskannya, pastikah pembaca lainnya sepemahaman dengan kamu?
Dengan menuliskannya, apakah kamu diuntungkan?
Dengan menuliskannya, apakah menjadi solusi pemecahan masalah?
Dengan menuliskannya, apakah justru tidak akan memperkeruh suasana?
Dengan menuliskannya, apakah tidak akan menimbulkan perdebatan dan merusak tali pertemanan?
Dengan menuliskannya, kepuasan apa yang kamu dapatkan?
Dari kesemuanya, tidak ada satu pun jawaban bijak yang ku dapat. Dan seketika ku ingat peribahasa yang umum dikutip itu: diam itu emas.
Karena terkadang lebih baik diam,
diam yang tidak berartikan kalah,
diam yang menunjukkan toleransi,
diam yang menunjukkan kedewasaan akan rasa mengalah,
diam yang mencegah diri dari perilaku “tong kosong nyaring bunyinya”,
daripada harus membicarakan sesuatu yang mungkin bahkan dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih buruk.
Komentar
Posting Komentar