Dilaporkan Langsung dari Kendari

Sebuah ulasan memperingati satu tahun setengah napak tilas di Kendari


Saat ini waktu menunjukkan pukul 10.31 WITA pagi. Aku sedang mengajar mata kuliah kemampuan menulis berbahasa Perancis di salah satu universitas ternama di Kendari. Aku sedang mengadakan praktek menulis kepada siswa-siswa, karenanya aku bisa menuliskan ini sambil menunggu hasil tulisan siswa selesai.

Yang terbersit pertama kali dalam pikiranku kala itu, 2016, adalah "Seperti apa Kendari? Kota yang letaknya nun jauh di sana, jauh dari Pulau Jawa, sekitar empat jam dari Jakarta via pesawat. Apakah aku bisa? Bertahan hidup di sana?" Ternyata kini sudah kudapatkan jawabannya, atas segala pertanyaan kecemasanku.

Kendari tidak berbeda jauh dengan kampungku, Indramayu. Keduanya sama-sama merupakan daerah yang bercuaca panas dan dikelilingi pantai. Hanya memang sedikit lebih panas di sini, dan berdebu sepanjang jalan. Tata kotanya juga belum rapih meski termasuk ke dalam sebuah provinsi besar. Di Kendari jarang turun hujan, hampir sama juga seperti Indramayu. Meski begitu, perubahan cuaca di sini tergolong ekstrim di mana sore hari dapat turun hujan dengan curah tinggi walau terasa panas menyengat di pagi dan siangnya. Begitu hujan, banjir akan menyiagakan warganya.

Sebelumnya aku merasa sedikit kecewa telah berada di sini. Kalian harus memakluminya. Bayangkan seseorang yang terbiasa hidup terfasilitasi kemudian harus merubah dan membiasakan dirinya hidup seadanya. Itulah aku pada saat itu. Dan segera, setiap saat aku ingin pulang. Sayang, kondisi sekitar 'memaksaku' untuk menetap.

Kini, aku sudah beradaptasi. Aku sudah merasa kerasan, meski rasa ingin pulang itu selalu ada, mungkin tidak akan hilang. Aku sudah banyak mencicipi makanan khas di sini. Songkolo dan Sinonggi adalah kesukaanku. Bagaimana itu bentuk dan rasanya? Aku sarankan agar kalian sendiri harus mencobanya jika singgah di Kendari.

Aku ingat saat-saat di mana rasanya aku sangat ingin pulang. Belum ganjil satu tahun waktu itu, sebuah masalah menghampiriku, tepatnya pekerjaanku. Memaksaku untuk menjadi pengajar tunggal untuk satu semester karena lainnya memilih untuk pergi. Beruntung tahun itu masih hanya berisikan satu tahun angkatan mengingat prodi perancis ini baru saja dibentuk.

Besarnya pengeluaran dibanding pendapatan sungguh menyedihkan. Terlebih aku sedang hamil besar kedua saat itu, segalanya terasa melelahkan. Beruntung aku memiliki suami yang prinsipil. Dia bilang, "Sabar, jangan cepet-cepet mutusin sesuatu. Kita udah pindah sejauh ini, ga mungkin pulang gitu aja dengan tangan kosong. Aku udah ga kerja demi kamu di sini. Siapa tahu, besok lebih baik. Kalau kerja jangan mikirin gaji, kerja yang bener, orang akan liat kelebihan kamu, dengan gitu rejeki dateng sendiri." Bulan-bulan berikutnya, meski selalu ingin pulang, prinsip itu menahanku, untuk selalu bekerja sesuai porsi dan bertanggung jawab penuh dengan pekerjaan.

Kendari,
Terima kasih sudah menampungku
Terima kasih sudah memberiku pekerjaan
Terima kasih sudah mendewasakanku
Terima kasih sudah mengajarkanku arti sebuah perjuangan
Terima kasih sudah memberitahuku bahwa uang bukan segalanya
Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa yang terlihat tidak seindah yang dipikirkan


Demikian laporan dari Anduonohu, Kendari, Sulawesi Tenggara, saya Aisyiah Al Adawiyah melaporkan.

Komentar

Paling menarik

Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90 (bagian kedua)

“Emang besok hari apa sih?”