Bandung, aku rindu

Malam begini, tepat pukul 7 malam, dingin dengan suhu 23 derajat saat itu di Bandung, kupastikan untuk tetap turun.

Sedang menuntut ilmu di kota orang kala itu, merasa bosan di kamar kos ukuran 2 x 4 meter, aku turun dari lokasi kos sekitar 15 menit berjalan kaki ke tempat biasa mahasiswa cari makan.
Turun? Ya, posisinya cukup tinggi seperti mendaki perbukitan yang dijadikan perumahan.

Kupastikan untuk tetap turun demi seporsi Lumpia Basah, Seblak Basah campur Makaroni Basah dengan tingkat kepedasan sedang khas Wa Jutex, begitu julukan pembuatnya.

“Bu”
“Eh eneng, mau pesan apa?” - dibicarakan dengan bahasa Indonesia, karena aku jarang berbahasa Sunda.
“Mau Seblak Basah campur Makaroni Basah.”
“Pedesnya?”
“Sedeng aja bu.”

Ah,
Bandung, aku rindu, berat.

Malam ini, jangan datangi aku dalam mimpi hai Baso Tusuk Sapi, Telur Gulung, Ketoprak Mang Jay, Bubur Putih Bandung, Kue Cubit, Kue Laba-Laba, dan kawan-kawan lainnya. Sudah cukup ku menanggung beratnya rindu ini.

Komentar

Paling menarik

Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90 (bagian kedua)

Dilaporkan Langsung dari Kendari

“Emang besok hari apa sih?”