Percekcokan antara Bapa dan Si Unyil
Pada suatu hari, di siang hari...
Satu hari sebelumnya, Si Kaka membawa ‘oleh-oleh’ dari sekolahnya ke rumah. Alhasil, keesokan harinya kami semua terserang batuk-pilek, termasuk Si Unyil.
Namun, ada peristiwa menegangkan terjadi pada siang harinya...
Bapa: “Ayo Ben, minum obat dulu!”
Kaka: *Sambil menggerakkan badannya menuju Bapanya menyambut kegiatan minum obat*
Pada saat itu, Emak sedang di kamar dan Si Unyil memiliki kesempatan untuk nimbrung Si Kaka.
Pada saat meminumkan obat untuk Si Kaka, peristiwa itu pun terjadi...
Unyil: “Eh Eh Eh!”, Unyil berseru sambil menunjuk obat sirup yang diminumkan ke Si Kaka.
Bapa: “Agam mau minum obat?”
Unyil: “Eh Eh Eh!”, Unyil berseru masih sambil menunjuk obat sirup yang diminumkan ke Si Kaka.
Bapa: “Jangan, ini mah buat Kaka. Ga boleh buat Agam.”
Unyil: “Eh Eh Eh!”, kali ini Unyil berseru sambil meronta-ronta meminta obat sirup itu.
Terjadilah percekcokan antara Bapa dan Si Unyil sepanjang 10 menit itu. Ke manapun Bapa pergi, Si Unyil mengikuti sambil merengek meminta obat sirup tadi.
Dan akhirnya, Bapa menyerah...
Dilihatnya keterangan kotak obat sirup itu, Alhamdulillah boleh diminumkan kepada seusia bayi. Gayung bersambut, kata terjawab, Si Unyil dapat ‘rezeki’.
Setelah meminum obat...
Bapa: “Bener-bener nurun mboke cilik mah. Tekang obat bae gah doyan.”
Emak: “Apa sih?”
Bapa: “Kuh, dupai kakange nginum obat, cilike jaluk pengen nginum kedik.”
Emak: “Iya tah?”
Bapa: “Kih barang wis dipai mah kesenengan. Kaya mboke, karo obat jeh doyan, tekang nginum obat sirup langka aturane.”
Emak: (-_-) “Giliran sing blesak-blesak diarani kaya mboke.”
Komentar
Posting Komentar