Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90 (bagian kedua)
"Kamu Milea ya?"
"Ku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin"
"Hei, ada undangan"
"Undangan apa?"
"Bacalah, Milea. Tapi nanti"
"Naon eta Yan maca bahasa arabna?"
"Naon nya?"
"Oh, Iqra Milea!"
"Assalamualaikum jangan?"
"Assalamualaikum"
Sumpah, percakapan-percakapan itulah yang membuatku terpesona dengan Dilan dan Milea. Ah aku berangan-angan andai kisah SMA ku juga seperti mereka, sayangnya hampir. Ah andai itu tidak terjadi di masa lampau, tentu banyak peninggalan-peninggalan bersejarahnya yang masih bisa kutemui. Ah andai kami (aku dan suamiku) masih berdomisili di Bandung, tentu kami akan nekat bepergian menyusuri peninggalan itu. Ah banyak sekali pengandaian-pengandaian itu, karena aku suka Dilan dan Milea, bagaimana cara mereka berinteraksi. Seketika aku rasa, film saja tidak cukup bagiku, apalagi film berikutnya baru akan digarap Juli mendatang dan akan tayang akhir tahun, dan itu lama. Ya, aku harus membaca novelnya, meskipun itu tiga buku sekalipun!
Krisis melanda, akhirnya aku hanya bisa browsing mbah Google untuk mendapatkan ketiga novel Dilan, beruntung banyak ternyata yang menyajikannya. Aku malas membaca, namun ketika ku menemukan buku yang pantas kubaca, percayalah tidak butuh waktu lama. Cukup tiga hari untukku menyelesaikan membaca ketiga novel Dilan. Dan, ini menyenangkan sekaligus menyedihkan.
Surayah berhasil membuatku terbawa suasana, masuk ke dalam apa yang seorang Pidi Baiq pikirkan dulu. Kamu tahu? Sampai saat ini netizen masih mempertanyakan, mencari untuk menemukan siapa Dilan dan Milea yang sebenarnya. Tapi aku tahu, segera, setelah ketiga novel Surayah ku selesai baca, Dilan itu adalah Pidi Baiq. Dan justru, yang masih membuatku penasaran sampai sekarang adalah siapa Milea. Meski petunjuk di dunia maya menunjukkan bahwa Milea merupakan nama yang sebenarnya dengan terdapatnya tiga akun twitter milik Lia itu.
Aku stalking, ketiga akun twitter itu. Intens memang respon antara Surayah dan Mama Lia itu layaknya Dilan dan Milea. Banyak foto-foto yang ditemukan terkait identitas Lia. Tapi aku belum puas kalau belum 'menemukannya' sendiri. Aneh ya? Kenapa aku sampe segininya... Pada dasarnya semua yang 'terlibat' dalam kisah SMA mereka, Dilan dan Milea, pasti penasaran untuk tahu betul siapakah tokoh aslinya, termasuk aku dan suamiku bahkan.
Dilan adalah Pidi Baiq, Milea adalah Mila Abidin
- Gaya bahasa antara Dilan dan Pidi sama. Menarik, susah ditebak, puitis, baku karena dipengaruhi banyaknya karya sastra yang keduanya sering baca, juga karena keduanya tumbuh di dalam sebuah keluarga yang berasal dari Sumatra.
- Dilan bukan nama asli melainkan nama tokoh dalam novel. Tahun 90 adalah tahun di mana tidak mungkin seseorang memiliki nama nyentrik. Dilan diambil dari nama Bob Dylan, penyanyi Amerika, yang disukai keduanya.
- Pada novel ketiga, Suara dari Dilan, Dilan mengatakan bahwa Bunda lahir di Aceh, Kota Sigli, ibu kota dari Kabupaten Pidie. Segera ku tahu bahwa kemungkinan besar nama Pidi diambil dari nama ibu kota itu.
- Ilustrasi Dilan dan sosok Pidi sama, apalagi jika dilihat dari samping.
- Foto jadul Pidi yang kedapatan memakai slayer dan jaket jeans denim beratributkan bendera Amerika pada bagian lengan sama dengan penggambaran tokoh Dilan.
- Dilan dan Pidi sama-sama merupakan jajaka Bandung, sekolah SMA dan kuliah di Bandung, alumni ITB, anggota geng motor XTC yang sangat ditakuti, dan menjadikan senang-senang sebagai hobinya.
- Dari hasil penelusuran Google, Pidi pernah memiliki blog Wordpress yang di dalamnya terdapat curhatan dengan salah satu sahabatnya Piyan (kelak ku tahu nama aslinya Atot Sopyan dari hasil penelusuranku di akun Fb milik Pidi Baiq) yang menceritakan bahwa mereka pernah memanjat pembatas kelas antara kelasnya dengan kelas lain hanya untuk mengintip siswa cantik pindahan dari Bekasi yaitu Mila Abidin.
- Ya, Mila Abidin bukan Milea Adnan Hussein. Aku kembali teringat, nama Milea juga nyentrik untuk digunakan pada tahun itu. Apalagi nama-nama temannya sendiri standar seperti Rani, Revi, Wati, dsb. Abidin sendiri adalah nama kakek dari Milea yang diceritakan dalam novel pertama. Segera ku sadari bahwa Milea juga sama seperti Dilan, merupakan nama samaran.
- Kemudian SMA 8 Bandung diketahui sebagai SMA mereka yang 100 meter didekatnya terdapat sebuah gereja. Sayangnya ternyata nama kepala sekolah pada saat itu juga turut disamarkan menjadi Pak Hamid, dengan nama aslinya Drs. R. Fattah Wiriamihardja yang menjabat pada tahun 1988-1992, tepat sampai kelulusan Milea.
Sayangnya, sampai detik ini aku masih belum menemukan seperti apa Mila Abidin. Dan ku pahami, nama samaran yang digunakan dalam novel itu tidak lain hanya untuk melindungi para tokoh aslinya. Seperti hasil pengintaianku, hampir semua tokoh aslinya merupakan sosok penting sekarang. Dengan begitu, keprivasian mereka tetap terjaga.
Harapan agar Dilan dan Milea bersatu itu sangat besar. Tapi wallahualam, hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Kesalahan yang terjadi dari kisah mereka itu adalah sesuai seperti perkataan Remi Moore (yang baca novel pasti tahu siapa tokoh ini), "Kalau cowok udah gengsian, jatuh-jatuhnya jadi sombong. Sedangkan cewek itu, punya rasa malu nyatain duluan. Jadinya ya gitu deh, kamu sama Lia itu istilahnya, dulu itu, jadi pada saling nahan diri gitu. Kasarnya mah jadi pada munafik."
Aku tidak lagi meributkan kenapa akhirnya tidak happy ending. Aku paham bahwa "Masa lalu bukan untuk diperdebatkan, itu sudah bagus. Biarkan. Termenung, tak baik lama-lama. Aku suka kamu. Kau tau, akan selalu" sesuai perkataan Surayah. Aku juga paham kemudian bahwa "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" kemungkinan besar diperuntukkan bagi kisah Dilan dan Milea.

Nama aseli nya pun asep saefudin.. 😊
BalasHapus