Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90

Saat itu aku melewati sebuah novel yang tampak familiar dari warna covernya. Segera ku dekati untuk memastikan kalau memang aku mengenalnya. Benar saja kemudian, novel itu berjudul Dilan, dengan font berukuran besar, yang lebih cepat ku tangkap dibanding dengan tulisan berikutnya yang lebih kecil, dan belum tertarik untuk ku baca saat itu.

Forum Liputan 6

Di pusat toko buku yang terkenal, pada bagian novel-novel yang ditumpuk menyerupai tangga itu, aku terdiam sambil berdiri, mengamati novel Dilan itu sambil kuraih dan kubaca kemudian bagian belakangnya. Ya, untuk memastikan menarik atau tidaknya sebuah buku, pasti akan selalu kubaca terlebih dahulu bagian belakangnya. Lalu akhirnya ku berpaling dan pulang.

Sebenarnya saat itu aku sudah tahu kalau Dilan memang terkenal, sebelum akhirnya difilmkan, tapi aku belum tertarik untuk membacanya. Karena memang aku lebih suka menulis dibanding membaca, terlebih untuk tipe satu buku yang hanya berisikan tulisan. Aku hanya menyukai komik, Detective Conan kesukaanku. Dan karena novel teenlit terakhir yang kubaca mengisahkan sebuah percintaan yang 'tragis' dengan mematikan tokoh utama prianya (novel terkenal juga pada tahun 2007 yang kemudian difilmkan dengan jalan cerita yang berbeda), aku jadi 'malas' untuk membaca novel seperti itu kembali.

Segera akhir tahun 2017 kemarin terdengar kembali keramaian seputar Dilan yang sedang difilmkan dan akan tayang di bioskop-bioskop kesayangan pada awal tahun 2018. Maka, rasa penasaran itu kembali muncul. "Kaya apa sih novelnya?". Juga ditambah dengan adanya kisruh perdebatan netizen yang menebak-nebak siapa yang akan memerankan tokoh Dilan nanti. "Penasaran sih, tapi males baca novelnya, 3 buku lagi!, Ah tunggu filmnya aja lah."

Pada akhirnya Falcon dan Pidi Baiq, Pembuat film dan Penulis Dilan, mengumumkan bahwa pemerannya adalah Iqbal Ramadhan, mantan personil Coboy Junior aka CJR. Ada yang aneh, netizen tidak puas dengan penetapan pemeran itu, mereka menggunjingkannya. "Memang kaya apa sih Dilan itu sampe jadi ribut gini?". Kemudian aku lihat teaser-teaser yang beredaran yang menayangkan klip-klip video seputar film Dilan (pada waktu itu Dilannya masih disembunyikan, berlatar belakang hitam putih tahun 90an dengan Si Vanesha Priscillia sebagai Milea), dan hatiku tergetar-merinding-terkesima untuk ku pastikan menonton filmnya nanti. Merinding, adalah tolak ukurku untuk merasakan taste tertentu cenderung bagus atas segala bentuk karya seni, baik musik sampai film.

Januari 2018, baik di sosmed maupun tv, sampai di ruang tengah maupun kamar, segera Dilan menjadi bahan obrolan utama aku dan suamiku. Setelah trailer beredar, kami berdiskusi untuk menentukan 'tanggal baik' menonton film Dilan. Maksudnya, karena kami masih mempunyai anak kecil berumur 1 tahunan tanpa pengasuh jadi kami harus bergantian pergi ke bioskop. Plus, menunggu sekiranya antrian Dilan lovers sudah tidak membludak.

8 Januari pukul 10.30 WITA, minggu ketiga pemutaran film Dilan, akhirnya aku nonton. Sendirian, bertemankan Paket Popcorn regular salty dan Ice lemon tea, dengan jejeran tempat duduk yang lengang saat itu karena aku menonton pada jadwal hari kerja, segera ku nyamankan diriku.


"Kamu Milea ya?" "Ku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin" ~ bagian kedua

Komentar

Paling menarik

Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90 (bagian kedua)

Dilaporkan Langsung dari Kendari

“Emang besok hari apa sih?”