Menyikapi fenomena Pelakor yang sedang tren belakangan ini... (bagian kedua)

Dari obrolan antara saya dan suami di atas, dapat saya simpulkan bahwa memang rumah tangga sekarang harus benar-benar dibina dengan baik dalam dua arah, dari istri maupun suami. Adapun saya dalammenyikapi fenomena pelakor akhir-akhir ini, hanya punya dua pilihan: Cerai atau bertahan.

Cerai, itulah pasti yang akan langsung terbersit dari pikiran istri sebagai korban yang paling tersakiti. Good enough, tanpa berbasa-basi langsung saja ajukan ke pengadilan agama.
Akan lebih baik lagi jika no drama. Bahkan jika ada yang bersuamikan PNS maka ini bisa dijadikan sebagai 'senjata makan tuan'. Laporkan ke instansi terkait di mana suami bekerja bahwa dia melakukan serong, dan hukuman yang akan diterima adalah selain mutasi bisa juga diturunkan jabatannya, dengan begitu pelakor akan mulai 'kendor'.

Kalaupun terlalu sayang dengan rumah tangga yang sudah dipertahankan bertahun-tahun, pilihlah untuk bertahan dan menunggu. Kenapa? Karena pada akhirnya suami akan sadar bahwa perlakuannya itu salah.
Ingat? Perempuan perebut tidak akan pernah puas hanya pada satu lelaki. Setelah dirasa lelaki itu tidak lagi dapat dimanfaatkan maka saat itu juga dia akan meninggalkannya. Dan orang pertama yang akan menjadi tempat kembali adalah keluarga yang ditinggalkannya.
Hanya saja dengan menunggu, sebagai istri yang ditinggalkan, harus dapat membekali dirinya sendiri dan anak-anaknya karena tentu suaminya sudah melupakannya apalagi menafkahinya. Meski terdengar pahit, opsi kedua ini dapat menunjukkan kesabaran seorang istri sesungguhnya, baik dari caranya mempertahankan rumah tangganya dan mencintai suaminya. Hal ini tentu akan menjadi pertimbangan berat bagi suaminya kelak agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Suami: Makanya itulah kenapa dianjurkan berpoligami daripada berzina dan saling menyakiti.
Saya: Tapi tetep aja sama-sama nyakitin meski judulnya poligami.
Suami: Tapi suaminya ga pergi ke mana-mana kan, dan lebih adil, sama-sama saling memiliki. Tidak ada yang ditinggalkan.
Saya: Iya sih...

Buat saya, tidak ada seorang pun yang lebih adil dari Rasulullah SAW dalam berpoligami, tidak tahu bagaimana dengan alim ulama yang menerapkannya. Hanya saja, saya tidak setuju kalau hanya menjadi yang pertama saja, tetapi juga ingin dicukupkan menjadi yang terakhir.
Karena itu sebisa mungkin sebagai istri, cukupkan suamimu untuk dirimu. Hindari menyebarkan foto-foto suami di sosial media apalagi disertai dengan caption yang dapat membuat sirik perempuan lain. Sebab sirik itu dapat menimbulkan 'ain yang juga membahayakan dalam hukum Islam.
Seperti penjelasan yang tertera dalam situs https://muslim.or.id/28858-penyakit-ain-melalui-foto-dan-video.html

Penyakit ‘ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/ kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.

Ibnul Atsir rahimahullah berkata,
ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ

"Dikatakan bahwa Fulan terkena ‘Ain , yaitu apa bila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit".

Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ

"Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ain lah yang dapat melakukannya".

Self reminder:
Jangan memancing jika tidak ingin terpancing
Jangan sebarkan baik foto, identitas maupun kepribadian menarik dari suami untuk konsumsi publik agar tidak menarik pelakor-pelakor jomblo di luar sana untuk datang menggoda suami kita.

Naudzubillah...

Komentar

Paling menarik

Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90 (bagian kedua)

Dilaporkan Langsung dari Kendari

“Emang besok hari apa sih?”