Mah, Pah Jangan ajari cucumu berbohong (bagian kedua)

"Jangan bilang-bilang Mama Papa nanti dimarahin", selipan kalimat inilah yang biasanya diucapkan kepada anak-anak yang dapat 'memotivasi' mereka dengan beranggapan bahwa melakukan apa saja disertai berbohong itu boleh asal tidak ketahuan.
Contoh kasus terkait hal ini yang saya dapatkan adalah di mana seorang anak dengan umur yang seharusnya cukup tahu apa itu baik dan buruk dan cukup paham bahwa berbohong itu tidak boleh dikarenakan orang tuanya yang mengajarkannya demikian sejak playgroup (bisa membaca dan menulis) dapat membohongi orang tuanya bahkan guru mengajinya pada saat akan mengaji di masjid dekat rumahnya. Alasan yang digunakan kepada guru mengajinya adalah dia pergi dengan orang tuanya, sedangkan kepada orang tuanya bahwa guru mengajinya tidak ada. Dan kejadian ini terulang sebanyak 2 atau 3 kali di hari yang sama setiap minggunya. Kebiasaan berbohong ini timbul akibat kebiasaan membohongi orang tuanya agar tidak dimarahi karena melakukan hal yang memang dilarang pada saat dititipkan kepada kakek-neneknya. Bukankah ini satu hal yang memprihatinkan?

Sebenarnya tidak mengapa memanjakan menyenangkan anak, hanya saja memperlakukan demikian atas nama rasa sayang bercampur kasihan yang mengarah pada perilaku berbohong akan membuat anak menjadi terbiasa berbohong. Dan tidak menutup kemungkinan memunculkan sifat pembohong pada diri anak.

Tentu jika melakukan pembicaraan ringan dengan orang tua, mereka melihat hal ini sebagai hal biasa karena pengalaman mereka sebagai orang tua tidak diragukan lagi. Hanya saja yang patut digaris bawahi adalah pendidikan anak sekarang dan dulu berbeda di mana pengaruh lingkungan luar zaman milenial ini sudah jauh lebih berbahaya karena disertai pertumbuhan teknologi yang semakin canggih yang akan memberikan pengaruh 'luar biasa' kepada anak, dan tanpa pendidikan karakter anak akan 'terombang-ambing' tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Dengan begitu anak sulit bertanggung jawab bukan hanya kepada dirinya sendiri tetapi juga orang di sekitarnya.


Pada akhirnya, antara orang tua dan kakek-neneknya harus menjalin hubungan dengan membangun pemahaman mengenai pendidikan karakter anak. Biar bagaimanapun, orang tua tidak bisa hanya menyalahkan kakek-neneknya pun anaknya. Karena ketika anak diasuh hanya dengan orang tuanya di rumah mungkin kejadian di atas dapat dihindari, ini berarti bahwa sesibuk apapun orang tua adalah tempat terbaik bagi anak bertumbuh kembang.

Komentar

Paling menarik

Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90 (bagian kedua)

Dilaporkan Langsung dari Kendari

“Emang besok hari apa sih?”