Mah, Pah Jangan ajari cucumu berbohong

Bohong, tentu bukan hal yang aneh lagi untuk dilakukan, dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang tahun-tahun kehidupan kita sebagai manusia. Bohong, entah itu bertujuan baik atau tidak, patutnya dihindari dan bukan untuk dibiasakan. Karena sekecil apapun kebohongan yang dilakukan untuk menutupi sesuatu, pasti akan diketahui juga pada akhirnya. Seperti peribahasa, "Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga".

Membiasakan diri untuk tidak berbohong sebaiknya dilakukan sejak dini. Kita seringkali mendengar kalimat "Jangan biasakan anak berbohong", bosan memang tapi penting untuk diperhatikan. Mengajarkan anak untuk tidak berbohong adalah upaya jangka panjang, di mana prosesnya akan membentuk si anak menjadi sosok yang bertanggung jawab.
Berlebihan mungkin, tapi tanggung jawab merupakan sikap yang penting untuk ditanamkan terlebih pada zaman milenial ini. Setidaknya, anak dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri sebelum orang lain. Dengan begitu, mereka akan berpikir sebelum bertindak.

Akan tetapi orang tua saja ternyata tidak cukup untuk mendidik anaknya menjadi seorang yang bertanggung jawab. Sayangnya, faktor lingkungan sosial pun tidak dapat kita harapkan, karena lingkungan merupakan dunia luar yang justru dapat memberikan pengaruh-pengaruh baru, positif atau negatif, bagi si anak selain di rumah, dan seringnya membahayakan.
Faktor lainnya yang berperan lebih penting dalam menerapkan pribadi yang baik bagi si anak adalah keluarganya, khususnya yang paling dituakan yaitu kakek-neneknya.

Ya, kakek-nenek merupakan sosok paling penting untuk mendukung pendidikan karakter anak sejak dini di rumah, selain orang tua. Akan tetapi seringnya, dengan alibi kasihan, kakek-neneknya lah yang justru berperan dalam mengubah, mengabaikan dan bahkan cenderung 'merusak' peraturan yang sudah diterapkan 'mati-matian' oleh orang tuanya kepada anak-anaknya. Kesempatan bagi anak yang seperti inilah yang kemudian timbul akibat dari ketidak tegasan penerapan peraturan itu.

Pernahkah bunda tidak memberi anak-anak makanan yang tidak sehat karena anak-anak rentan batuk dsb. tetapi kakek-neneknya malah menyediakannya?
Atau, ketika bunda tidak memberi uang jajan berlebih agar anak-anak tidak boros tetapi kakek-neneknya malah melakukan hal sebaliknya?
Atau, ketika bunda melarang anak-anak menonton televisi tetapi kakek-neneknya malah membiarkannya?
Bahkan, ketika bunda pun mencegah anak-anak 'melakukan kontak' dengan sebuah telepon pintar tetapi kakek-neneknya malah mengajarkannya?
Maka dari kesenjangan seperti inilah anak akan melihat kesempatan di mana mereka bisa melakukan apa saja ketika mereka dititipkan kepada kakek-neneknya di saat orang tuanya sibuk atau pada saat libur sekolah. Dan ini lebih berbahaya dibandingkan dengan pengaruh lingkungan sekalipun, mengingat rumah merupakan tempat bermula pendidikan karakter dibentuk dan perilaku orang tua maupun kakek-nenek adalah contoh yang akan ditiru anak.

Komentar

Paling menarik

Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90 (bagian kedua)

Dilaporkan Langsung dari Kendari

“Emang besok hari apa sih?”