Sebuah testimoni untuk Dilan dariku yang tumbuh di '90 (bagian kedua)
"Kamu Milea ya?" "Ku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin" "Hei, ada undangan" "Undangan apa?" "Bacalah, Milea. Tapi nanti" "Naon eta Yan maca bahasa arabna?" "Naon nya?" "Oh, Iqra Milea!" "Assalamualaikum jangan?" "Assalamualaikum" Sumpah, percakapan-percakapan itulah yang membuatku terpesona dengan Dilan dan Milea. Ah aku berangan-angan andai kisah SMA ku juga seperti mereka, sayangnya hampir. Ah andai itu tidak terjadi di masa lampau, tentu banyak peninggalan-peninggalan bersejarahnya yang masih bisa kutemui. Ah andai kami (aku dan suamiku) masih berdomisili di Bandung, tentu kami akan nekat bepergian menyusuri peninggalan itu. Ah banyak sekali pengandaian-pengandaian itu, karena aku suka Dilan dan Milea, bagaimana cara mereka berinteraksi. Seketika aku rasa, film saja tidak cukup bagiku, apalagi film berikutnya baru akan digarap Juli mendatang dan akan ...
Komentar
Posting Komentar